Mudik eui…
Mei 8, 2009 pukul 8:22 pm | Ditulis dalam Kesehatan Anak | Tinggalkan komentarInilah mudik pertama keluarga kami, saya , suami, dan tentunya bersama si kecil Hanif nan lucu. Awalnya berat juga membawa mudik si kecil, membayangkan banyaknya orang di stasiun dan adanya penumpang bertiket tanpa kursi di kereta, “wah, bakalan berdesakan nehh….”.
Tapi Alhamdulillah banget, di Gambir penumpang seperti hari-hari biasa, dan di atas kereta tidak ada penumpang bertiket tanpa tempat duduk. Alhamdulillaah.. Begitu kereta datang, alhamdulillaah…tepat waktu, eh begitu masuk gerbong si kecil Hanif langsung berteriak keras, rupanya dia girang banget dehh kayaknya. Mungkin dipikirnya, “ini ruang apaan ya…, belum pernah lihat deh kayaknya… “ (betul ga Nif?)he..he…tentu saja “ini namanya kereta api Hanif…”
Sampai di Jogja, pas waktu berbuka. Agak terlambat deh keretanya. Wuahh…merasakan hangatnya Jogja. Wait, tunggu dulu, ternyata Jogja ketika musim lebaran kemaren tidak hanya hangat tapi juga menyengat jika siang datang. Kita bertiga tambah hitam gitu dehhh…hikss!!!
Mudik memang meninggalkan kisah yang banyak dan bermacam-macam….(emangnya sayuran). Saat mudik Hanif kan belon ada 6 bulan, jadi alhamdulillaah tidak ribet deh harus bawa-bawa mangkuk, parutan, dan lain sebagainya layaknya perlengkapan MPASI karena Hanif masih ASI EKSKLUSIF gitu loch…. Nah, berhubungan dengan ASI EKSKLUSIFnya Hanif ada kisah menarik….
ASI EKSKLUSIF YANG TERPINGGIRKAN
Kisahnya begini, saat itu pagi semua orang sudah mandi (ya iyyalah, orang pagi itu idul fitri), jadi kita semua bersiap-siap sholat ied di lapangan. Nah, karena saya juga mau ikutan sholat, jadi strollernya Hanif ikut serta, maksudnya, supaya ketika di tinggal sholat, Hanifnya ga kemana-mana, soalnya Hanif waktu itu sudah bisa merangkak ala tentara (begitu katanya Bundany Kayla, he..he..
, kalo sekarang mahh udah merangkak betulan….
Nah, waktu itu kalo ga salah sholatnya udah selesai, alhamdulillaah Hanifnya pas sholat anteng banget. Nah..(nah lagi!), waktu itu saya mau ambil Hanif dari stroller untuk saya gendong, kebetulan di sebelah stroller ada ibu-ibu temenya Ibu mertua (soalnya kenal gitu dehh..), ibu itu menyapa.. Tepatnya begini lho percakapanya..
Ibu-Ibu : Wuah, udah gede ya Mbak putrane?
Saya : Iya Bu,alhamdulillaah..
Ibu-Ibu : Berapa bulan Mbak?
Saya : 6 bulan kurang dikit Bu
Ibu-ibu : Udah di kasih maem ya
Saya : Alhamdulillaah Bu, belum. Insya Alloh ASI Eksklusif saja.
Ibu-Ibu : Wah kasihan Mbak, nggak laper po?
Saya : Insya Alloh enggak Bu, lha wong putrane baik-baik saja kok. (jujur saja, sebenarnya dalam hati saya agak sedikit dongkol , ternyata mengalami juga kisah momnya Fayyadh
S
Sepertinya percakapan di atas biasa saja. Tapi ada sedikit pelajaran yang bisa di ambil di sana. Ternyata himbauan pemberian ASI EKSKLUSIF masih sangat kurang, banyak yang menganggap bahwa jika bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan tidak mencukupi kebutuhannya. Padahal himbauan dari WHO, tentu saja sudah melalui berbagai penelitian, bahwa pemberian makan sebelum waktunya dapat menimbulkan berbagai gangguan pencernaan pada bayi. Sebenarnya sosialisasi ASI EKSKLUSIF jangan hanya diberikan kepada ibu muda, ibu-ibu hamil, atau petugas kesehatan saja, tapi juga masyarakat secara menyeluruh, misalnya saja minimal harus ada perwakilan satu orang dari setiap satu keluarga, karena banyak kasus, gagalnya pemberian ASI EKSKLUSIF justru dari orang-orang terdekat (keluarga khususnya).
Ibu-ibu pada zaman dahulu taunya kalo bayi nangis mesti lapar, makanya trus dikasih deh maem, padahal banyak lho penyebab bayi menangis. Akhirnya, masih bayi dikasih deh pisang kerok, nasi lumat, dan lain sebagainya. Ups, alhamdulillaah, ibu saya tersayang kan jadi kader POSYANDU sejak anaknya masih kecil mpe sekarang dah punya cucu dua, jadi deh ibu pendukung ASI EKSKLUSIF, makasih Bunda. Atau bisa juga dilihat dari badan si bayi, jika badannya kecil maka dianggapnya ASInya kurang, sebenarnya asalkan tidak dibawah kurva grafik pertumbuhan dan BBnya selalu naik, jangan khawatir deh, mungkin bakat (turunan) atau si kecil cenderung tinggi, begitulah. Karena saya pernah baca buku “Mengukir Cinta di Lembar Putih”- Afifah Afra, dituliskan, bayi ASI memang cenderung kecil di banding bayi susu formula. Jadi, dalam tulisan ini saya menekankan, banyak kisah ibu muda yang mendapat tantangan2, justru dari keluarga terdekat mereka. Dan jika kita tidak siap maka kita akan stress, padahal jika kita stress, ASI kita justru tidak akan keluar…so jangan gentar dengan serangan-serangan itu.
Untuk urusan ASI EKSKLUSIF katakan YA jika ada YANG MENENTANG!!! Karena, bisa jadi orang tua kita sendiri, mertua, kakak, kakak ipar, nenek kita, yang justru menentang ASI EKSKLUSIF. Jangan juga terbujuk dengan iklan susu formula (sufor) yang katanya penuh gizi, DHA, AA dan lain sebagainya. Bukankah ALLOH SWT telah menganugrahkan kepada kita sebagai seorang ibu untuk dapat memberikan ASI yang selalu fresh, mudah dan praktis, murah dan tentunya bergizi tinggi tiada tanding amiin.////
Kutipan : Usia Berapa Bayi Mulai Mengenal Makanan Pendamping ASI?
Memiliki anak pertama tentunya merupakan pengalaman yang sama sekali baru, dan karenanya banyak yang perlu ditanyakan tentang banyak hal, termasuk mengenai usia pengenalan makanan (Makanan Pendamping Air Susu Ibu = MPASI) pada bayi.
”Saya bingung, sebaiknya anak saya mulai makan usia berapa ya? 4 atau 6 bulan?” begitu tanya seorang ibu yang anak pertamanya baru akan memasuki usia 4 bulan dalam beberapa hari. “Makanannya berbentuk apa? Bubur? Pisang? Jadwalnya bagaimana?” tanyanya kemudian. Tanggapan dari para mommies di milis WRM rata-rata menyarankan untuk menunggu sampai dengan usia bayi 6 bulan, sesuai dengan anjuran pemerintah untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.
Disebutkan pula bahwa dalam penelitian terbaru banyak hal yang membuktikan bahwa pemberian bahan makanan tambahan (BMT) sebelum usia 6 bulan biasanya tidak memberikan keuntungan yang “dikenal” bagi bayi. Selain itu juga malah mempersingkat masa total pemberian ASI eksklusif, serta ada kemungkinan malah dapat terbentuk alergi terhadap bahan makanan tertentu.
Kadang-kadang memang ibu yang baru memiliki anak pertama dibuat bingung soal ini karena pengaruh pendapat kiri kanan seperti dari keluarga atau tetangga. Informasi tentang perubahan masa pemberian MPASI ini dijelaskan oleh seorang mom.
Menurut informasi tersebut, untuk panduan internasionalnya sendiri ada dua macam. Hingga awal tahun 90-an, organisasi internasional seperti WHO dan UNICEF menganjurkan pemberian BMT pada akhir usia bayi 4 bulan. Anjuran ini sendiri hingga kini masih dijadikan referensi di Jerman oleh Deutschen Gesellschaft fuer Ernaehrung (DGE 1996), Forschungsinstitut fuer Kinderernaehrung (aid 1998) dan der Nationalen Stillkomission (2001). Kemudian pemberian BMT sekitar usia 6 bulan sendiri dianjurkan oleh UNICEF pertama kali dalam publikasi UNICEF (Facts of life 1993) dan resolusi 47.5 World Health Assembly (1994). Awal mulanya mungkin karena ditemukan adanya peningkatan jumlah kasus alergi pada bayi karena makanan tambahan di Amerika dan Eropa. Sejak tahun 1999, UNICEF konsekuen untuk menyuarakan pemberian BMT saat bayi berusia 6 bulan.
Dalam publikasi WHO sendiri (1999) dua panduan tersebut juga ditemukan, namun panduan terbaru WHO untuk eropa dan negara2 bekas Uni Sovyet menyebutkan adanya anjuran pemberian ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan (Michaelsen et al 2000). Dalam dokumen lain American Academy of Pediatrics (1997) dan Health Care Inspectorate and Nutrition Centre Niederlande (1999) juga ditemukan anjuran serupa.
Dalam literatur ilmiah terbaru atas dasar keuntungan dari segi kesehatan pada bayi, maka anjuran pemberian ASI hingga usia 6 bulan selalu disebutkan. “Repotnya, interpretasi hasil studi dan anjuran tersebut biasanya ‘dipersulit’ dengan adanya definisi yang tidak cukup serta tak adanya ketepatan terminologi (semisal: sejak usia 6 bulan, kira kira usia 6 bulan, setelah usia 6 bulan)” lanjutnya kemudian. Ditambahkannya bahwa untuk pemberian bahan makanan tambahan antara usia 4-6 bulan dapat dipertimbangkan bila:
- anak memiliki permasalahan gizi buruk (baca: bila referens kurva untuk anak yang memperoleh ASI: berat/tinggi badan = -2SD) dimana pertolongan pertama perbaikan manajemen laktasi tidak memberikan hasil yang memuaskan.
- adanya permasalahan kesehatan khusus pada anak (misal gangguan metabolisme tubuh tertentu) ataupun pada ibu. (Kaufmann, Scherbaum 2003)
Bila tidak ada permasalahan khusus, biasanya anjuran pemberian bahan makanan tambahan di sarankan dengan terlebih dahulu mengetahui studi terbaru tentang tema ini agar dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Sebab kabarnya anjuran yang general sebenarnya kurang dapat diberikan tanpa melihat kondisi objektif kesehatan, perkembangan, serta kebutuhan makanan anak sebagai individu. “Untuk bahan makanan pertama, dianjurkan berupa bahan-bahan makanan yang kira-kira tidak sulit dicerna oleh bayi, sehingga masa adaptasi pertama organ pencernaan tidak mengalami masalah.
Kalau di sini (Jerman) dianjurkan untuk pengenalan hanya berupa sayur mayur tertentu dan buah-buahan”, tambahnya. Dan saran dari seorang mom, katanya “Yang penting sebisa mungkin jangan terlalu sering memberikan makanan instan, apalagi sekarang produk makanan bayi begitu hebatnya membanjiri dapur para ibu muda. Sebisa mungkin kita buat sendiri, karena lebih fresh, bersih, dan yang pasti yakin soal kehalalannya”. (Disarikan dari artikel)
Tinggalkan sebuah Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan Balasan
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.