.:.Wanita kaRiEr.:. (?…)

April 27, 2009 pukul 9:22 pm | Ditulis dalam Sebuah Catatan | Tinggalkan komentar

10/12/04 9:55:15

Adakalanya, aku bercerita dan sharing experience dengan temen-temen akhwatku, begitu banyak ilmu-ilmu baru, belajar dari berbagai kharakter akhwat, dari yang paling lembut hingga yang paling keras. Terkadang jujur saja, aku ingin menjadi salah satu seperti mereka, tapi aku berbalik lagi, Allah telah menciptakan hambaNya, dengan sebaik-baik penciptaan. Sehingga, aku pun tersadar, tidaklah mungkin aku menjadi seperti mereka, yang harus aku perbuat adalah, aku memfilternya untuk menjadi suplemen bagi perbaikan diri. Baik yang sesuai dengan karakterku, atopun tidak sesuai dengan karakter pribadiku. Akupun harus pandai-pandai menempatkannya pada diriku.

Seperti ketika aku share masalah pekerjaan, dalam pikiranku, aku harus mempunyai penghasilan sendiri, bukan untuk membalas kebaikan orang tuaku yang telah bersusah payah mendidik diriku dari orok hingga aku se”tinggi” ini. (he…he…), karena aku tahu seberapa juta ton emas yang aku berika keorang tuaku pun tak bisa membalas jasa-jasanya pada diri ini, karena 3 amalan sholeh setelah kematian manusia adalah salah satunya adalah DOA ANAK yang SHOLEH/HAH. Sungguh, karena itu aku ingin menjadi anak yang sholeh, dan dalam tulisan ini tidak perlu dijelaskan bagaimana menjadi anak yang sholeh, terlalu panjang dan aku rasa sudah mengerti semuanya. .

Kembali ke masalah pekerjaan, bagiku aku harus mempunyai penghasilan sendiri, apalagi ketika aku sudah lulus kuliah, tidak ada salahnya mencoba tidak lagi bergantung pada orang tua. Hingga yang dalam pikiranku adalah, aku harus bekerja dengan niatan ibadah, sekaligus aku memperoleh penghasilan, bukankah dengan begitu dua keuntungan aku peroleh? Pun dengan menajdi seorang karyawan, wiraswasta, bukankah, akhir-akhir ini aku sudah seidikit faham dengan hal ini. Sungguh, ketika ada ungkapan, wanita kan tidak wajib untuk bekerja, a gree!! Tapi, aku kan belum menikah, peluangku untuk mencari pengalaman di berbagai bidang masih terbuka luas…(bukan untuk mencari kebebasan), dan ini juga (mungkin….)karena jiwa petualangku, aku selalu tergerak untuk mencoba hal yang baru, apalagi jika itu menguntungkanku dalam hal materi khususnya (dalam kesempatan kali ini, kan yang dibahas masalah materi?), jadi bukan karena materialistis. Dan, ketikapun mempunyai penghasilan bukankah terbuka lebar untuk lebih bisa banyak berinfaq dan bersedekah, wallahu ‘alam bishshowwab. Setiap manusia dihisab secara individu tidak secara kolektif, jika boleh berargumen, tidak mungkinkah kita bersikap “egois” ketika sudah pada ‘berapa amalan yang kita punya?”. So, fastabiqul khoirot!!!! .

Tapi ketika, sudah bersuami? Aku pikir sama saja, seorang wanita tidak mempunyai kewajiban untuk mencari nafkah! Karena itu kewajiban seorang suami. Tapi, bukankah pengalaman yang diperoleh semasa gadis tidak akan pernah bisa dibeli dengan apapun? Waktu tidak dapat kembali ukhti……! .

Kita tidak tahu, berapa usia yang diberikan Allah pada suami kita, untuk bersama-sama dengan kita? Ketika kemungkinan terburuk, suami mendahului kita menghadap padaNya (ya Allah, aku minta beri aku suami yang bisa menemaniku hingga kututup mata ini…). bukankah kita sudah siap, jika kewajiban suami sudah tidak bisa tertunaikan, pun ketika suami harus berhijrah karena suatu hal dan kita tidak bisa mengikutinya, subhaanallah, …. .

Jika saja, dibolehkan manusia menyembah manusia, maka seorang istri diwajibkan menyembah suaminya, tentu saja, beberapa hal di atas harus tetap mengacu pada keredhoan suami. Sepanjang dalam kebaikan, jika suami tidak redho kita bekerja ya sudah, jangan ngoyo, karena kewajiban setelah bersuami adalah tho’at dan patuh padanya, apalagi ketika sudah mempunyai jundi (uh…kapan yah?), tentu sebagai tarbiyatul aulad lah kita, so wanita karier, ibu rumah tangga, ato apapun sebutannya, jika boleh berpendapat, sama saja, kodrat kita sebagai wanita, dan yang paling penting bahwa tugas utama kita sebagai kholifah, dan sebagai seorang muslim, tidak boleh terlupakan. Islam itu selamat, tapi muslim itu penyelamat jadi tugas dakwah kita tidak boleh terabaikan, pernikahan kita adalah pernikahan dakwah, ucapan kita adalah ucapan dakwah, pekerjaan yang kita lakukan di manapun tempatnya, di instansi pemerintah, sebagai guru, sebagai apapun maka kita dalam rangka dakwah, so NEVER ENDING DAKWAH, jihad never sleep, mujahid never die, this writing dedicated for someone is will be my beloved brother!!!! Anyone!!!!! .

Finished at:10/12/04 10:34:08
INCULS’s_room @ FIB UGM
NB:
tapi, aku pikir lebih baik lagi, jika seorang wanita yang bekerja adalah sesuai kodratnya sebagai pendidik, so……mungkin menurut pandangan ane proefesi guru yah yang paling tepat?wallaahu ‘alam bishshowab, berbuatlah sesuai kemampuan dan kadar yang kamu miliki.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.